Meskipun Elon Musk telah merombak total identitas platformnya menjadi X dan membuang semua atribut yang berkaitan dengan logo burung biru, ternyata X masih enggan melepaskan hak milik atas nama Twitter.
Berdasarkan laporan terbaru dari Techcrunch, Kamis (18/12/2025), perusahaan di bawah naungan ekosistem teknologi milik Musk ini justru terlihat mati-matian mempertahankan merek dagang orisinal mereka di ranah hukum.
Menariknya, X baru saja memperbarui ketentuan layanan mereka untuk kembali menyertakan referensi eksplisit ke nama Twitter setelah sekian lama hanya menonjolkan identitas X saja.
Langkah ini disinyalir sebagai upaya defensif untuk melawan manuver hukum dari sebuah startup ambisius yang mencoba membatalkan kontrol X atas merek dagang bersejarah tersebut melalui petisi resmi.
Startup yang berani menantang raksasa media sosial ini bernama Operation Bluebird. Menariknya, perusahaan ini didirikan oleh Stephen Coates, yang tak lain adalah mantan penasihat hukum Twitter sendiri di masa lalu.
Pekan lalu, Coates secara terbuka mengumumkan rencananya untuk mengambil alih aset-aset Twitter yang dianggap telah “ditinggalkan” demi kepentingan pengembangan platform baru.
Langkah hukum pertama yang mereka ambil adalah mengajukan petisi kepada Kantor Paten dan Merek Dagang AS dengan argumen bahwa X sudah tidak lagi menggunakan merek tersebut secara fungsional.
Operation Bluebird menilai bahwa penghapusan logo burung dan nama Twitter dari pemasaran resmi X Corp secara otomatis membuat merek tersebut tersedia untuk diadopsi oleh pihak lain.
Dalam argumen hukumnya, Operation Bluebird menjelaskan bahwa merek TWITTER dan TWEET sebenarnya telah lenyap dari produk, layanan, hingga strategi pemasaran X Corp, sehingga secara efektif dianggap telah ditinggalkan tanpa niat untuk digunakan kembali.
Tim Coates bahkan sudah memiliki rencana matang untuk menghidupkan kembali nama tersebut di bawah bendera baru yang akan beroperasi di situs web twitter.new. Mereka ingin mendaftarkan kembali merek dagang legendaris itu untuk mendukung platform media sosial yang benar-benar baru, memanfaatkan kekosongan yang ditinggalkan oleh transformasi radikal Elon Musk yang kini lebih fokus pada identitas X.
Argumen yang dibawa Operation Bluebird memang memiliki dasar yang terlihat nyata di mata publik, mengingat Elon Musk sendiri sangat vokal mengenai rencananya meninggalkan identitas lama sejak mengakuisisi perusahaan pada tahun 2022.
Musk sempat membuat cuitan ikonik yang menyatakan bahwa dunia akan segera mengucapkan selamat tinggal pada merek Twitter dan semua atribut burungnya secara bertahap.
Namun, meskipun proses rebranding ke X sudah dilakukan secara masif, terdapat satu sisa sejarah yang masih kokoh bertahan hingga saat ini, yakni alamat domain Twitter.com yang tetap mengarahkan trafiknya ke X.com. Hal inilah yang tampaknya menjadi celah bagi X untuk mengeklaim bahwa mereka belum sepenuhnya “membuang” merek tersebut.
Memasuki tahun 2025, X memperketat benteng hukumnya melalui pembaruan persyaratan layanan yang akan mulai berlaku efektif pada 16 Januari mendatang. Dalam dokumen tersebut, ditegaskan bahwa pengguna tidak memiliki hak untuk menggunakan nama X maupun nama Twitter, termasuk logo, nama domain, hingga fitur khas lainnya tanpa persetujuan tertulis dari perusahaan.
Melalui petisi balasan yang diajukan, X menegaskan kembali bahwa merek dagang Twitter tetap merupakan hak milik eksklusif mereka, meski secara visual identitas tersebut sudah jarang terlihat di antarmuka aplikasi. Pertarungan ini menjadi sangat pelik karena melibatkan interpretasi hukum tentang kapan sebuah merek benar-benar dianggap “mati” atau “ditinggalkan”.
Stephen Coates tetap optimis dan menyatakan bahwa petisi pembatalan yang diajukan Operation Bluebird didasarkan pada hukum merek dagang yang sudah mapan. Ia yakin bahwa X secara hukum telah meninggalkan merek tersebut setelah secara publik menyatakan bahwa identitas Twitter sudah mati dan menghabiskan sumber daya besar untuk membangun identitas X.
Dengan nada menyindir, Coates menyebut bahwa ketika pihak X memilih untuk mengucapkan selamat tinggal, timnya justru siap mengucapkan selamat datang kembali bagi komunitas yang merindukan identitas orisinal platform tersebut.
Antusiasme publik pun terlihat nyata, di mana lebih dari 145.000 orang dilaporkan telah mengklaim nama pengguna di calon platform milik Operation Bluebird.
Minat yang masif ini kemungkinan besar menjadi alarm bagi X bahwa merek Twitter masih memiliki nilai jual yang sangat tinggi, sehingga mereka tak akan membiarkannya jatuh ke tangan orang lain dengan mudah.